Kau masih gagah di sini
masih bersemangat kukuh
usia yang menjangkau tiga suku abad
masih hebat terserlah
kerana semangat kental perjuangan yang belum selesai
bila agaknya perjuangan selesai?
Hati nurani yang tulus memerdekakan bahasamu
bahasa bangsa yang tergugat oleh bangsa sendiri
perjuangan ini tidak sampai-sampai akhirnya
Kau sabar menanti
meniti di arus deras yang tiada haluan
tidak menentu
kau masih sabar menanti di situ
Kau adalah ayahku sekarang
semangat yang aku pinjam darimu
kerana yang asal zahirnya sudah tiada disini
untukku
mengobat rindu yang masih dalam
aku perlukan kehadiranmu
kami semua perlu kehadiranmu
lama lagi
Kami meminjam semangatmu
yang kental untuk kami mara
maju...mengisi sanubari yang meminat-minta di isi
Moga Dia relakan kami berdamping dengan mu
lebih lama lama dan lama lagi
kerana keperluan jiwa kami untuk di beri makna
kepada yang tidak di beri makna
kepada hak yang harus dipertahankan.
Tunggu di sini dengan kami
kehadiran yang amat di perlukan
kami bakhil dengan kasihmu
walaupun usia menjangkau tiga suku abad
di sini, di sini kami masih perlukanmu.
Seperti ayah, kau tiada penggantinya.
Catatan: Sebuah puisi penghormatan menjelang hari lahir Sasterawan Negara Datuk Dr. A. Samad Said yang ke 75 tahun.
Lyna Usman
10 Ogos 2009
Monday, August 10, 2009
Wednesday, August 5, 2009
A tribute poem for my Ayah
Last Sunday evening, 2nd August '09, some friends of my late father came over to my house. One of them was a Writer from Sarawak, Mr. Wu An who also brought another Writer friend from Sarawak, Mr. Liang. My father's friend who brought them is a local Writer and Translator as well, Mr. Chan Yong Sin. He was the Mandarin Translation Editor and also one of the translators for our latest tribute book to my late father "Sahabatku" (My Friend).
They came to reconfirm their invitation for me read a tribute poem for Usman Awang written by Wu An. It is a translation from Mandarin to Bahasa Malaysia, translated by Chan Yong Sin. The reading was on the following evening, Monday 3rd August '09, at Berjaya Times Square Hotel. The event was called "Malam Semarak Perpaduan" ( Rekindling Solidarity Night).
We rehearsed the reading at my house that night, just to get things right as we have never read together before and also because we will be reading in a sequence - Mandarin and Bahasa Malaysia in turns.
I was honoured to be given the opportunity to read with my late father's good friends. The poem was entitled: "Terang Memancar" (Shining Brightly). I also met our First Lady, who was the Patron of the event and Senator Dr Koh Tsu Koon, for the first time. The event was organised by DBP, PERSPECTIVE, Dong Zong, Chinese Cultural Society, The Malaysian Chinese Assembly and the Malaysian Chinese Writers Association.
Thursday, July 30, 2009
" Baca Puisi Usman Awang "
Pada pagi yang indah 28 Julai kelmarin, kami berada di Sekolah Menengah Persendirian Chong Hwa, Kuala Lumpur, atas jemputan Guru Besarnya, Encik Hwong dan pihak lembaga dan pengurusan sekolah untuk mengadakan acara ini, sempena bulan lahir Usman Awang.
Kami di sambut dengan penuh hormat. Acara ini juga di sambut mesra oleh syarikat penerbitan One Nusantara dan Karangkraf dan juga Persatuan Sasterawan Kavyan. Kami dari UA Enterprises sangat terhutang budi atas keikhlasan yang di hulurkan.
Auditorium itu penuh sesak dengan warga sekolah tersebut. Dari tetamu ke pihak pengurusan sekolah, ke guru-guru dan anak-anak murid yang menunggu dengan sabarnya. Kami terharu atas penghormatan yang di beri kepada Usman Awang. Saya teringat pada satu ketika, sewaktu perasmian Sekolah Menengah Usman Awang di Johor Baru.















Anak-anak yang mendeklamasi puisi-puisi Usman Awang, sangat berbakat. Tidak ketinggalan guru-guru yang juga telah menyumbang semangat dengan bacaan puisi mereka dari antologi puisi yang baru - Sahabatku. Saya kagum dengan persembahan mereka semua, membaca puisi dengan penghayatan dan ekspresi yang baik dan penuh semangat.
Syabas kepada guru-guru, Guru Besar dan semua yang terlibat dalam acara ini, termasuk Encik Chan Yong Sin - salah seorang teman akrab Usman Awang yang juga menjadi penyelenggara dan salah seorang penterjemah Bahasa Mandarin untuk buku "Sahabatku"; Saudara Uthaya Sankar - salah seorang daripada penterjemah Bahasa Tamil untuk buku "Sahabatku", juga seorang teman penulis yang bertanggungjawab atas cetusan cadangan acara ini; Encik Koh Yok Hwa - Ketua Pengarah Gemilang Publishing Group dan anak syarikat beliau One Nusantara yang memeterikan penyelenggaran acara ini.
Seperti acara "Baca Puisi A. Samad Said & Usman Awang" di Pasar Seni pada 19 Julai, acara ini juga benar-benar menyemarakkan perasaan perpaduan yang di impikan Usman Awang. Dan impian murni ini sekarang adalah milik kita bersama.
Kami di sambut dengan penuh hormat. Acara ini juga di sambut mesra oleh syarikat penerbitan One Nusantara dan Karangkraf dan juga Persatuan Sasterawan Kavyan. Kami dari UA Enterprises sangat terhutang budi atas keikhlasan yang di hulurkan.
Auditorium itu penuh sesak dengan warga sekolah tersebut. Dari tetamu ke pihak pengurusan sekolah, ke guru-guru dan anak-anak murid yang menunggu dengan sabarnya. Kami terharu atas penghormatan yang di beri kepada Usman Awang. Saya teringat pada satu ketika, sewaktu perasmian Sekolah Menengah Usman Awang di Johor Baru.
Anak-anak yang mendeklamasi puisi-puisi Usman Awang, sangat berbakat. Tidak ketinggalan guru-guru yang juga telah menyumbang semangat dengan bacaan puisi mereka dari antologi puisi yang baru - Sahabatku. Saya kagum dengan persembahan mereka semua, membaca puisi dengan penghayatan dan ekspresi yang baik dan penuh semangat.
Syabas kepada guru-guru, Guru Besar dan semua yang terlibat dalam acara ini, termasuk Encik Chan Yong Sin - salah seorang teman akrab Usman Awang yang juga menjadi penyelenggara dan salah seorang penterjemah Bahasa Mandarin untuk buku "Sahabatku"; Saudara Uthaya Sankar - salah seorang daripada penterjemah Bahasa Tamil untuk buku "Sahabatku", juga seorang teman penulis yang bertanggungjawab atas cetusan cadangan acara ini; Encik Koh Yok Hwa - Ketua Pengarah Gemilang Publishing Group dan anak syarikat beliau One Nusantara yang memeterikan penyelenggaran acara ini.
Seperti acara "Baca Puisi A. Samad Said & Usman Awang" di Pasar Seni pada 19 Julai, acara ini juga benar-benar menyemarakkan perasaan perpaduan yang di impikan Usman Awang. Dan impian murni ini sekarang adalah milik kita bersama.
Sunday, July 26, 2009
Adieu...Yasmin
A beautiful soul has left us early this morning. I wish I had known her personally, I wish I had the guts to go up to her when I saw her at the Subang Gazebo, a few years ago, I wish I had called her to asked whether she would be interested to turn one of Ayah's works into a film, I wish...I wish... I wish.
Regrets are one of our shortcomings as human beings but there it is. The lost and deprivation of chance that we seek seems so enormous. We try to learn from history repeating itself but it is the nature of Man. God has made us such. But the beauty of remembrance make us better people if we adhere to it.
A lost beautiful soul like Yasmin, will always be remembered as we see her in her creative and thought provoking works. Works that we need to salvage our Malaysian unity, realised or not.
May Allah recognise your beautiful soul and keep you with those He loves. Alfatehah.......................Amin.
Regrets are one of our shortcomings as human beings but there it is. The lost and deprivation of chance that we seek seems so enormous. We try to learn from history repeating itself but it is the nature of Man. God has made us such. But the beauty of remembrance make us better people if we adhere to it.
A lost beautiful soul like Yasmin, will always be remembered as we see her in her creative and thought provoking works. Works that we need to salvage our Malaysian unity, realised or not.
May Allah recognise your beautiful soul and keep you with those He loves. Alfatehah.......................Amin.
Readings
I never knew that I really hungered for readings until yesterday. It was a lovely Saturday afternoon when me and Rahim went to a reading on the invitation of a new friend, Sharon Bakar. It was held at Seksan's @ 67 Jalan Tempinis Satu, Lucky Gardens, Bangsar, KL. The readings here are mostly held once a month by Sharon @ Bibliobibuli blog. It is mostly attended by book lovers, writers, journalists, etc. Actually everyone is invited.
I looked around the sea of faces and found Amir Muhamad, whom I shared a table at last year's Alternative Bookfair @ Central Market and one of my late father's friends, Dr. Shanmughalingam. I was soon put at ease because everyone was so friendly.
The first reader was Jac SM Kee. She had an interesting story to tell about childhood scary tales of 'Hantu Kopek' and the development of breasts as a young girl...ahh those were the days! These and a few other essays from various young writers were published by Amir Muhamad. Will have to get a copy soon as I don't even know the title.
Yvonne Lee, the second reader was a former beauty queen who relates to plastic surgery issues as she had a friend who passed on because of this surgery. I wish I had written down the titles of these books. Next time then... but she said we could get it at MPH...i think.
One of the interesting writers who also read that day was Dr. Dipika Mukherjee, an affiliated fellow at Leiden University, Netherlands. She read her beautiful poems and it inspired me. I am one of those who writes poems but dare not let it be published, though one or two has slipped out...in memory of my late Ayah.
Shamini Flint, another reader gave her fair share of anecdotes and insights into 'Detective Singh' and the local law issues. She made everyone laugh with her stories and thoughts. Paul Selvam and Amir Sharipuddin are the young aspiring writers who also read their stories which we have to support. Thanks to Amir Muhamad, we get to hear from the young generation who needs a boost to colour our Malaysian literature.
Congratulations Sharon and Co!
I looked around the sea of faces and found Amir Muhamad, whom I shared a table at last year's Alternative Bookfair @ Central Market and one of my late father's friends, Dr. Shanmughalingam. I was soon put at ease because everyone was so friendly.
The first reader was Jac SM Kee. She had an interesting story to tell about childhood scary tales of 'Hantu Kopek' and the development of breasts as a young girl...ahh those were the days! These and a few other essays from various young writers were published by Amir Muhamad. Will have to get a copy soon as I don't even know the title.
Yvonne Lee, the second reader was a former beauty queen who relates to plastic surgery issues as she had a friend who passed on because of this surgery. I wish I had written down the titles of these books. Next time then... but she said we could get it at MPH...i think.
One of the interesting writers who also read that day was Dr. Dipika Mukherjee, an affiliated fellow at Leiden University, Netherlands. She read her beautiful poems and it inspired me. I am one of those who writes poems but dare not let it be published, though one or two has slipped out...in memory of my late Ayah.
Shamini Flint, another reader gave her fair share of anecdotes and insights into 'Detective Singh' and the local law issues. She made everyone laugh with her stories and thoughts. Paul Selvam and Amir Sharipuddin are the young aspiring writers who also read their stories which we have to support. Thanks to Amir Muhamad, we get to hear from the young generation who needs a boost to colour our Malaysian literature.
Congratulations Sharon and Co!
Wednesday, July 22, 2009
Acara 19 Julai di Pasar Seni
Nick Brumleve dari Amerika Syarikat, yang berkecimpong dalam teater, sedang melancong di Malaysia. Beliau mendeklamasi puisi : The Ice Water Seller ( Penjual Air Batu)
Peter Rowan, pelancong dari New South Wales, Australia, mendeklamasi terjemahan puisi Usman Awang dalam Bahasa Inggeris : They Have Risen (Mereka Telah Bangkit).
Kelly Brumleve, seorang guru dari Amerika Syarikat, mendeklamasi terjemahan puisi Bahasa Inggeris : Young Chinese Men and Women (Pemuda dan Gadis Tionghua) dari buku terbaru kami.
Sedang asyik mendengar pembacaan puisi. Duduk di hadapan : Izza Izelan (antara pendeklamatur, seorang guru Bahasa Inggeris di Kuala Lumpur); saya; Dr. Lim Swee Tin, antara pendeklamatur (Penerima Anugerah S.E.A); Peter Rowan; Arwindran (antara pendeklamatur) dan Prakash Suriyamurthy, seorang penterjemah dan pendeklamatur istimewa yang cacat penglihatan telah membaca puisi : Balada Terbunuhnya Beringin Tua Di Pinggir Sebuah Bandaraya, dalam 'Braille'.Acara bermula dengan pendaftaran nama mereka yang berminat untuk mendeklamasi puisi-puisi Sasterawan Negara Datuk A. Samad Said & Sasterawan Negara Usman Awang. Buku-buku kedua-dua Sasterawan Negara di jual oleh syarikat penerbitan masing-masing : Wira Bukit & UA Enterprises Sdn. Bhd. Buku-buku lain adalah dari Kavyan (penganjur bersama Pasar Seni); dan syarikat penerbitan Citra Kurnia dan One Nusantara.
Yang menariknya, bukan sahaja segelintir peminat puisi di Kuala Lumpur sahaja yang hadir tetapi ada juga pelancong asing yang berminat untuk ikut serta dalam mendeklamasi puisi pada acara malam itu. Puisi-puisi yang di baca adalah dari Bahasa Malaysia, Bahasa Mandarin, Bahasa Tamil dan Bahasa Inggeris. Sayang sekali tiada yang boleh berbahasa Iban, walaupun ada terjemahan puisi Usman Awang dalam bahasa tersebut dalam buku baru, sebuah penghormatan kepada beliau bertajuk "Sahabatku" yang hadir buat pertama kalinya. Buku di terbit untuk harijadi beliau ke 80 pada 12 Julai lalu, di jual dengan harga diskaun istimewa bersama kemeja-t berwarna hitam yang memaparkan lukisan stem Usman Awang oleh pelukis terkenal tanahair, Allahyarham Redza Piyadasa.
Kemeja-t rekaan baru yang memaparkan stem lukisan Usman Awang oleh Redza Piyadasa, di jual pada malam itu dengan diskaun istimewa.Pelukis terkenal Redza Piyadasa telah melukis 2 buah portrait Usman Awang dalam bentuk stem. Satu dalam koleksi Balai Seni Lukis Negara dan satu lagi di miliki sepasang suami-isteri yang gemar mengumpul lukisan. Lukisan yang kami mohon izin untuk di paparkan pada kulit buku "Sahabatku" dan juga pada kemeja-t adalah dari koleksi Encik Pakharudin Sulaiman, seorang peguam dan isteri beliau, Fatimah. Terima kasih yang tidak terhingga dari kami sekeluarga atas kesudian mereka memberi izin kepada kami.
Di sini, saya ingin mengambil kesempatan untuk menyatakan terima kasih pada penganjur utama, ia itu, Kavyan dan Pasar Seni yang sudi mengadakan acara ini sebagai penghormatan kepada Sasterawan Negara A. Samad Said, seorang teman akrab arwah ayah saya dan juga memberi penghormatan kepada Sasterawan Negara Usman Awang sempena menyambut hari lahir beliau ke 80, tahun ini.
Saya juga ingin berterima kasih kepada Dr. Lim Swee Tin atas sokongan padu darinya dan juga isteri beliau Selina dan anaknya Lim Feng Feng dari Citra Kurnia. Terima kasih pada teman seperjuangan, Saudara Helmy Samad dan mereka dari Wira Bukit yang telah membantu dan menyokong kami dalam dunia penerbitan selama ini. Tidak lupa juga, terima kasih pada One Nusantara yang bukan sahaja merupakan antara penganjur bersama tetapi telah menerbit sepanduk memaparkan suara merdeka : Dr. Lim Swee Tin; saya dan Saudara Uthaya Sankar dari Kavyan.
Terima kasih pada semua yang membantu menjadikan acara ini bermakna dengan ketulusan hati dari cinta pada sastera tanahair dan cinta pada keharmonian hidup bersama antara kaum. Acara sebegini rupa seharusnya mendapat sokongan padu dari pihak-pihak yang bertanggungjawab atas pemeliharaan sastera dan perpaduan tanahair.
Antara teman-teman yang hadir ialah Abu Bakar Atan dari TV3 dan isteri beliau; juga salah seorang teman akrab ayahanda saya , Tan Sri Kamarul Ariffin.
Sunday, July 19, 2009
Sudah terima!
Petang tadi suamiku Rahim di temani anakku Taufiq pergi ke tempat grafik kami untuk mengambil buku dan kemeja-t yang baru keluardari cetakan. Saya puashati dengan terbitan baru ini.
Jika ingin lihat dan membelinya dengan harga istimewa, jemput hadir: hari ini, Ahad, 19 Julai, ke "Acara - Baca Puisi SN A. Samad Said & SN Usman Awang" bermula pada jam 7 - 9 malam, Pasar Seni, Kuala Lumpur.
Jika ada yang berminat untuk mendeklamasi puisi, datang jam 6 petang untuk mendaftar nama dan pilih puisi untuk di baca. Mereka yang mendeklamasi puisi Allahyarham Usman Awang akan di hadiahkan senaskah buku terbarunya berjodol "Sahabatku".
Pendeklamatur Bahasa Malaysia, Bahasa Mandarin, Bahasa Tamil, Bahasa Inggeris dan Bahasa Iban di alu-alukan mendaftar secepat mungkin kerana meja pendaftaran akan di tutup jam 7 malam. Semua pendeklamatur harus perpakaian kebangsaan untuk acara ini.
Kita jumpa di Pasar Seni petang nanti!
Jika ingin lihat dan membelinya dengan harga istimewa, jemput hadir: hari ini, Ahad, 19 Julai, ke "Acara - Baca Puisi SN A. Samad Said & SN Usman Awang" bermula pada jam 7 - 9 malam, Pasar Seni, Kuala Lumpur.
Jika ada yang berminat untuk mendeklamasi puisi, datang jam 6 petang untuk mendaftar nama dan pilih puisi untuk di baca. Mereka yang mendeklamasi puisi Allahyarham Usman Awang akan di hadiahkan senaskah buku terbarunya berjodol "Sahabatku".
Pendeklamatur Bahasa Malaysia, Bahasa Mandarin, Bahasa Tamil, Bahasa Inggeris dan Bahasa Iban di alu-alukan mendaftar secepat mungkin kerana meja pendaftaran akan di tutup jam 7 malam. Semua pendeklamatur harus perpakaian kebangsaan untuk acara ini.
Kita jumpa di Pasar Seni petang nanti!
Subscribe to:
Posts (Atom)